Jejak Siak di Tebing Tinggi, Sumatera Utara

Wilayah Padang, Bedagai, Tebing Tinggi, hingga sebagian Deli Serdang menyimpan sejarah panjang yang memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh politik Kesultanan Siak di pesisir timur Sumatra. Catatan kolonial yang ditulis Controleur Padang en Bedagai, J. J. Medelaar pada tahun 1933 menunjukkan bahwa hubungan antara Padang, Serdang, Deli, Asahan, dan Siak bukan sekadar hubungan dagang biasa, melainkan jaringan kekuasaan yang saling berebut pengaruh selama berabad-abad.

Sejarah itu berawal dari kawasan Tinokkah di Nagaradja, yang dalam tradisi lokal disebut sebagai tempat berkumpulnya kelompok-kelompok masyarakat yang terusir dari kerajaan Hindu lama di pedalaman Simalungun. Di tempat inilah muncul seorang pemimpin bernama Saragih Dasalak yang berhasil membangun pengaruh politik dan menjalin hubungan dengan penguasa Nagoer. Dari wilayah kecil itu kemudian lahirlah kawasan yang dikenal sebagai Padang.

Sekitar tahun 1630, seorang Saragih Dasalak bernama Oemar Baginda Saleh dikenal luas pada era transisi Samudera Pasai dan Kesultanan Aceh. Setelah wafat sekitar tahun 1640, keturunannya melanjutkan kekuasaan di Badjanis dan Geraha di Partibi.
Perkembangan Padang berlangsung sangat cepat. Wilayah pengaruhnya meluas ke daerah pesisir dan muara sungai yang strategis bagi perdagangan. Pada masa cicitnya yang bernama Sjabokar, kekuasaan Padang semakin besar hingga muncul tokoh penting bernama Lankanoedin yang memegang jabatan Panglima Bandar Chalipa.

Pada masa inilah hubungan dengan Siak mulai terlihat jelas. Dua tokoh dari Siak, Said Amat dan Said Ali, datang ke Langkat setelah mengalami tekanan politik di negeri asalnya. Mereka kemudian menjadi kaya melalui perdagangan lada dan berusaha membangun kembali kekuatan untuk merebut pengaruh di Siak.

Namun Lankanoedin berhasil mempertahankan Bedagai agar tetap berada di bawah kekuasaan Padang dan kemudian Serdang. Meski demikian hubungan antara keluarga Padang dan kelompok bangsawan Siak tetap berjalan baik. Ketika Said Amat berhasil menjadi Sultan Siak pada tahun 1795 dengan gelar Sultan Abdoel Dalil Sjaripoedin, ia justru memberikan gelar kebesaran kepada Lankanoedin sebagai Sultan Mangedar Alam Bandar Chalipa.

Pemberian gelar tersebut memperlihatkan bahwa pengaruh Siak di wilayah Padang dan Bedagai bukan dilakukan melalui penaklukan militer langsung, melainkan lewat hubungan aristokrasi, pengakuan politik, dan jaringan keluarga bangsawan Melayu. Gelar dari Siak menjadi sumber legitimasi penting bagi para penguasa lokal di pesisir timur Sumatra.

Pada awal abad ke-19, Sultan Mangedar berhasil mengalahkan Sjahdewah dan menguasai Padang. Namun kekuasaannya kemudian memunculkan konflik internal keluarga. Dua anak laki-lakinya yang lahir dari hubungan dengan budak perempuan justru dibesarkan di Serdang atas perintah istrinya sendiri. Harapannya, kelak Padang dapat berada di bawah pengaruh Serdang.

Ketika Sultan Mangedar meninggal, perebutan takhta mulai terjadi. Keluarga-keluarga bangsawan di Padang terpecah menjadi beberapa kelompok yang saling meminta bantuan kepada Serdang, Deli, dan bahkan Langkat. Situasi ini membuat wilayah Padang menjadi arena persaingan politik antarkerajaan Melayu di pesisir timur Sumatra.

Pengaruh Siak tetap terasa karena banyak tokoh lokal memperoleh pengakuan gelar dan status kebangsawanan dari jaringan Melayu Siak. Dalam dunia Melayu saat itu, pengakuan semacam itu sangat penting karena menentukan legitimasi seorang penguasa di mata rakyat maupun kerajaan tetangga.

Konflik semakin memanas ketika Radja Moedin dari Deli berusaha memperluas pengaruh ke Bedagai dan Bandar Chalipa sekitar pertengahan abad ke-19. Deli melihat Padang sebagai wilayah penting karena letaknya strategis di jalur perdagangan sungai dan pesisir.

Perang demi perang kemudian pecah. Panglima Daoed Djohar dibunuh, sementara Radja Geraha dan Panglima Kadjoem ditangkap dan dibawa ke Deli. Namun kekuasaan Deli ternyata tidak pernah benar-benar stabil di wilayah Padang karena masyarakat setempat terus melakukan perlawanan.

Untuk menghadapi tekanan Deli, tokoh-tokoh Padang kemudian mencari perlindungan kepada Asahan. Langkah ini menunjukkan bahwa wilayah Padang dan Bedagai terus bergerak mengikuti keseimbangan kekuatan politik di pantai timur Sumatra. Kadang mendekat ke Deli, kadang ke Serdang, kadang pula ke Asahan.

Dalam perkembangan berikutnya, Padang bahkan memindahkan pelabuhannya ke kawasan Pagoerawan demi memperkuat posisi ekonomi dan pertahanan. Pelabuhan menjadi sumber kekayaan utama karena perdagangan lada, hasil hutan, dan jalur sungai sangat menentukan kekuatan politik lokal.

Catatan kolonial Belanda kemudian menunjukkan bahwa klaim Deli atas Padang sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Dalam praktiknya, Deli sering kehilangan pengaruh di kawasan itu dan harus berulang kali menggunakan bantuan politik maupun militer untuk mempertahankan kedudukannya.

Di sisi lain, hubungan kekerabatan dengan keluarga bangsawan Siak tetap bertahan melalui gelar-gelar Melayu dan jaringan elite pesisir. Hal ini memperlihatkan bahwa pengaruh Siak tidak hilang meski kekuatan militernya mengalami perubahan akibat munculnya dominasi kolonial Belanda.

Pengaruh tersebut juga tampak dalam struktur elite Bedagai. Banyak pejabat lokal memakai gelar Melayu yang identik dengan tradisi politik Siak dan kerajaan-kerajaan Melayu pesisir lainnya. Gelar seperti Panglima, Bandar, Wazir, hingga Kelana memperlihatkan kuatnya budaya politik Melayu Islam di wilayah itu.

Tebing Tinggi sendiri kemudian berkembang sebagai kawasan penting karena berada di jalur antara Padang, Bedagai, dan perkebunan-perkebunan besar Deli. Pada masa kolonial, wilayah ini menjadi tempat bertemunya berbagai kelompok etnis seperti Melayu, Batak, Jawa, Mandailing, Aceh, Tionghoa, Arab, hingga Benggala.

Catatan Medelaar memperlihatkan bagaimana wilayah Padang Bedagai dan Tebing Tinggi menjadi daerah yang sangat kosmopolitan. Orang Arab banyak berdagang kain di Tebing Tinggi, orang Jawa bekerja di perkebunan, sementara orang Batak menghuni kawasan pedalaman dan dataran tinggi.

Perkembangan ekonomi perkebunan karet dan tembakau pada awal abad ke-20 semakin memperbesar arti penting wilayah ini. Ribuan buruh Jawa didatangkan ke perkebunan-perkebunan, sementara para elite lokal tetap mempertahankan hubungan tradisional dengan kerajaan Melayu seperti Deli, Serdang, dan Asahan.

Sejarah Padang Bedagai dan Tebing Tinggi akhirnya memperlihatkan bahwa pengaruh Siak di pesisir timur Sumatra tidak hanya terbentuk lewat perang, tetapi juga melalui jaringan keluarga, gelar bangsawan, perdagangan, dan hubungan Islam Melayu. Dari Bandar Chalipa hingga Bedagai, jejak Siak menjadi bagian penting dalam pembentukan sejarah politik Deli Serdang dan Tebing Tinggi yang masih terasa hingga sekarang.

Share on Google Plus

About Admin2

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment