Tokoh sentral yang muncul adalah Murshid al-Khaznawi, kekuarga dari ulama terkenal Muhammad Mashouq al-Khaznawi, yang wafat disiksa oleh rezim Suriah Bashar Al Assad pada 2005. Mashouq dikenal sebagai pemimpin spiritual dan politik Kurdi yang menggabungkan khutbah keagamaan dengan seruan perlawanan terhadap penindasan rezim. Kematian Mashouq menjadi simbol perlawanan dan memicu mobilisasi politik di kalangan Kurdi Suriah.
Murshid lahir pada 1975 di desa Khazna, Hasakah, yang kini bagian dari wilayah Kurdi yang sering disebut “Kurdistan terjajah”. Ia tumbuh di keluarga ulama, mengikuti pendidikan agama yang ketat, dan menyerap nilai-nilai perjuangan ayahnya. Murshid kemudian menempuh studi lanjut di berbagai institut Islam, memperkuat kombinasi antara pendidikan klasik dan wawasan kontemporer.
Dalam aktivitas publiknya, Murshid menjadi imam dan khatib di masjid-masjid Hasakah dan bahkan di Damaskus. Ia juga menjadi anggota beberapa komite fatwa, serta aktif dalam konferensi dialog antaragama. Murshid mendirikan sejumlah lembaga pendidikan dan amal, menekankan prinsip moderasi dan integrasi nilai tradisional Islam dengan realitas modern.
Strategi SDF menggunakan figur seperti Murshid muncul di tengah kampanye anti-Islam PKK yang menargetkan komunitas Kurdi dan Arab. SDF ingin menekankan bahwa selain elemen ateis yang terlibat dalam pembantaian warga Arab di Hasakah baru-baru ini, mereka juga punya figur Muslim sunni di jajaran pejabatnya.
Dengan menghadirkan tokoh agama moderat dari keluarga al-Khaznawi, SDF berusaha menunjukkan legitimasi moral sekaligus membangun citra inklusif yang menolak ekstremisme. Figur ini menjadi semacam jembatan antara identitas Kurdi dan Islam moderat yang dapat diterima luas.
Murshid dikenal menekankan prinsip moderasi dan menolak segala bentuk ekstremisme. Dalam khutbah dan kegiatan sosialnya, ia menekankan bahwa Islam bisa berpadu dengan identitas etnis Kurdi tanpa menimbulkan konflik internal. Strategi ini memungkinkan SDF memperoleh dukungan masyarakat sipil yang religius sekaligus mempertahankan kontrol politik di wilayah yang sensitif, meski nuansa ideologi terorisme PKK di tubuh SDF yang anti Islam dan Arab lebih dominan.
Warisan tokoh, Mashouq al-Khaznawi, tetap menjadi dasar simbolik. Mashouq wafat setelah mengalami siksaan berat oleh rezim Suriah, meninggalkan pesan bahwa perjuangan Kurdi harus diiringi nilai-nilai moral dan keagamaan. Keluarga al-Khaznawi dipandang sebagai pusat legitimasi, bukan hanya oleh komunitas Kurdi lokal, tetapi juga di mata organisasi militer-politik seperti SDF.
Dalam konteks ini, istilah “Mufti Qasd” yang muncul dalam video lebih bersifat simbolik daripada jabatan formal. Murshid menjadi wakil moral dari garis perjuangan ayahnya, sementara SDF memanfaatkan pengaruhnya untuk membangun narasi legitimasi terhadap dunia internasional dan komunitas Kurdi sendiri.
Peran Murshid bukan hanya simbolik. Ia aktif dalam membangun jaringan amal, pendidikan, dan dialog lintas agama, yang sekaligus mendukung strategi sosial SDF. Dengan memperkuat aspek dakwah moderat, SDF mencoba menurunkan ketegangan dengan masyarakat lokal yang mungkin skeptis terhadap kekuatan milisi mereka.
Selain itu, pengaruh Murshid membantu SDF mengurangi resistensi internal. Dalam lingkungan konflik, figur agama yang dihormati berfungsi sebagai penengah, menyalurkan aspirasi masyarakat sipil, dan menjaga agar kontrol wilayah tetap stabil. Strategi ini kritikal mengingat SDF menghadapi tekanan eksternal dari kelompok bersenjata lain dan pengaruh regional.
Sejarah keluarga al-Khaznawi memberikan legitimasi tambahan. Mashouq al-Khaznawi menjadi simbol perlawanan Kurdi terhadap penindasan rezim Assad. Kematian dan perjuangannya menjadi cerita heroik yang terus diwariskan oleh keturunannya. Hal ini memungkinkan SDF menampilkan diri sebagai gerakan yang menggabungkan kekuatan milisi yang ekstrem dengan nilai moral dan spiritual.
Di sisi lain, strategi ini juga menanggapi kritik dari kelompok Kurdi lain maupun pengamat internasional. Dengan menonjolkan Murshid, SDF ingin menekankan bahwa perjuangan mereka bukan sekadar militer, tetapi juga etis dan berbasis masyarakat. Figur ulama memperkuat citra ini, terutama di tengah kampanye propaganda anti-Islam PKK.
Pentingnya figur Murshid terlihat dalam hubungannya dengan komunitas internasional. Ia menghadiri konferensi antaragama dan dialog kemanusiaan, menunjukkan bahwa SDF ingin dipandang sebagai gerakan modern yang menghormati pluralisme agama dan nilai-nilai kemanusiaan. Ini kontras dengan citra milisi ekstrem yang kadang melekat pada lembaganya.
Peran simbolik ini juga strategis menghadapi tekanan regional. Dengan memperlihatkan tokoh agama moderat, SDF menurunkan potensi intervensi negatif dari negara tetangga atau kekuatan asing yang menilai SDF sebagai kelompok milisi radikal kiri. Murshid menjadi semacam “aset moral” untuk pencitraan politik dan keamanan.
Selain strategi politik, Murshid tetap aktif dalam dakwah dan kegiatan sosial. Ia mendirikan sekolah dan lembaga amal yang menjangkau masyarakat Kurdi yang terdampak perang, termasuk keluarga pengungsi dan korban konflik. Aktivitas ini memperkuat basis sosial SDF dan membangun narasi kepedulian kemanusiaan.
Keluarga al-Khaznawi secara keseluruhan menjadi simbol kontinuitas perjuangan Kurdi. Dari Mashouq hingga Murshid, garis keturunan ini menunjukkan bagaimana warisan moral dan spiritual bisa dipadukan dengan strategi politik modern, terutama dalam lingkungan konflik seperti Suriah timur laut.
SDF sendiri memanfaatkan pencitraan ini untuk menegaskan identitasnya sebagai salah satu kekuatan Kurdi yang bertanggung jawab, moderat, dan bersandar pada legitimasi moral. Ini berbeda dengan milisi yang hanya mengandalkan kekuatan senjata tanpa dukungan masyarakat sipil.
Dalam perdebatan publik, figur seperti Murshid al-Khaznawi membantu SDF menghadapi kritik baik dari kelompok Kurdi lainnya maupun dari masyarakat internasional. Mereka menekankan bahwa perjuangan Kurdi bukan hanya soal wilayah atau kekuasaan, tetapi juga soal nilai moral dan agama.
Kehadiran Murshid dan simbol ayahnya juga menambah dimensi psikologis. Komunitas Kurdi yang melihat figur mereka dihormati secara moral lebih mungkin mendukung SDF, memperkuat stabilitas wilayah dan menahan perpecahan internal.
Strategi ini juga relevan dalam mengimbangi citra anti-Islam yang diusung PKK, yang menentang peran agama dalam politik Kurdi. Dengan figur moderat seperti Murshid, SDF bisa menunjukkan bahwa agama dan identitas Kurdi bisa berjalan seiring tanpa menimbulkan ekstremisme.
Dengan kombinasi strategi simbolik, sosial, dan dakwah, SDF membangun narasi bahwa mereka bukan sekadar kekuatan militer, tetapi juga gerakan komunitas yang memadukan tradisi dan modernitas. Murshid al-Khaznawi menjadi kunci dalam narasi ini.
Akhirnya, strategi ini menjawab tantangan kompleks di Suriah timur laut. Di tengah konflik milisi, tekanan regional, dan kampanye anti-Islam PKK, SDF memanfaatkan figur Murshid dan warisan keluarga al-Khaznawi untuk menjaga legitimasi, moral, dan dukungan komunitas, membangun identitas Kurdi yang moderat namun tegas.
0 comments:
Post a Comment